Saturday, February 23, 2013

Islam and Evolusi Manusia

Penemuan-penemuan fossil di seluruh dunia merupakan bukti tak terbantahkan tentang keberadaan manusia purba. Mereka berbentuk seperti kera besar berbulu, tinggal di gua-gua, dan berkomunitas. Tetapi mereka juga memiliki kecerdasan, walaupun masih terbatas. Umumnya mereka hidup dari berburu, dan sudah bisa memasak hasil buruan. Terbukti dari bekas-bekas perkakas yang ditemukan di sekitar lokasi fosil mereka ditemukan.


Berdasarkan uji umur atas fossil-fossil yang ditemukan, para ilmuwan membagi periode evolusi manusia sebagai berikut:

1. Periode Miocene: 17 juta - 5,3 juta tahun yang lalu
2. Periode Pliocene: 5,3 juta - 2,58 juta tahun yang lalu
3. Periode Pleistocene: 2.58 juta - 10.000 tahun yang lalu
4. Periode Holocene: 10.000 - 5.000 tahun yang lalu
5. Periode Manusia Modern 5.000 tahun hingga sekarang

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_human_evolution_fossils

Perselisihan antara teori evolusi dan konsep penciptaan manusia disebabkan karena kesalahan asumsi menempatkan Nabi Adam as di ujung awal dari evolusi manusia, bapak dari manusia purba. Membayangkan Nabi Adam as memiliki bentuk seperti kera besar yang berbulu bertentangan dengan firman Allah yang mengatakan:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4)

Titik temu antara teori evolusi dengan konsep penciptaan sangat mungkin dapat dicapai dengan pemahaman bahwa manusia purba hingga akhir periode Holocene bukanlah keturunan Nabi Adam as, dan bahwa Nabi Adam as adalah bapak dari manusia modern yang diketahui mulai hidup sekitar 5.000 - 6.000 tahun yang lalu.

Ayat Al Qur'an di bawah ini menunjukkan bahwa Nabi Adam as diciptakan sesudah masa manusia purba, atau setidaknya di periode akhir kehidupan manusia purba.

Allah berfirman:

Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau". Rabb berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. 2:30)

Dari mana Malaikat bisa mengetahui bahwa manusia akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Padahal Malaikat tidak mengetahui hal yang ghaib, dan masa depan termasuk hal yang ghaib. Terbukti Allah mengakhiri ayat tersebut dengan mengingatkan para Malaikat bahwa Allah sajalah yang Maha Tahu hal yang ghaib. Lalu dari mana Malaikat bisa mengetahui bahwa makhluk yang akan diciptakan akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?

Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari mana Malaikat bisa tahu. Dengan mengesampingkan kemungkinan Malaikat sekedar menebak, maka kemungkinan terakhir hanyalah hasil observasi. Ungkapan Malaikat di ayat di atas merupakan hasil observasi langsung. Hasil observasi terhadap makhluk humanoid yang saat itu sudah lebih dahulu ada, yaitu manusia purba. Manusia purba tersebut memiliki sifat perusak alam dan mudah menumpahkan darah.

Bisa jadi ketika Allah berkata kepada para Malaikat bahwa Allah akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi, Allah juga memberitahukan kepada para Malaikat ciri, bentuk, kemampuan dan tingkat kecerdasan dari makhluk baru ini. Ternyata makhluk baru ini memiliki keterkaitan dengan manusia purba yang saat itu sudah ada. Sehingga, Malaikat mengaitkannya dengan sifat-sifat manusia purba, yang cenderung membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Al Qur'an bukanlah buku yang ditulis untuk membenarkan atau menyalahkan teori evolusi. Al Qur'an merupakan petunjuk bagi umat manusia untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Namun karena Al Qur'an di wahyukan oleh Sang Maha Pencipta, seringkali mutiara-mutiara ilmu pengetahuan ikut turun bersamaan dengan turunnya Al Qur'an. Dari sana kita berharap menemukan jawaban dari apa yang tidak atau belum ditemukan jawabannya didalam ilmu pengetahuan.

Sebagai penutup, mari kita renungkan ayat berikut:

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) (QS. 3:33)

Perhatikan bagaimana Nabi Adam as dilebihkan dari umat-umat di masanya. Siapakah umat-umat yang ada di masa Nabi Adam as?

Penelitian membuktikan bahwa pada suatu periode ribuan tahun yang lalu, manusia modern (homo sapiens) pernah hidup di dalam periode yang sama dengan manusia purba neanderthal. Ayat 95:4 di atas juga bisa dipahami bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang "lebih baik", yang menujukkan adanya perbandingan. Yaitu, lebih baik dari makhluk yang ada sebelumnya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment